Penanganan Kesehatan Mental Buruk, Gantung Diri Marak

gantung
Ilustrasi. (M Faisal/Radar Sampit)

Dia melanjutkan, kasus bunuh diri tidak hanya terjadi pada generasi muda. Ancaman depresi yang berujung bunuh diri bisa menyerang orang dari berbagai usia.

”Orang-orang yang punya kecenderungan bunuh diri seringkali berusaha mengomunikasikan masalahnya kepada orang lain, tapi tidak mendapatkan respons yang tepat atau lingkungannya tidak peka. Jadi, tidak hanya usia muda, usia tua pun bisa melakukan hal itu,” jelasnya.

Bacaan Lainnya

Amalia menuturkan, apa pun bisa menjadi pemicu bunuh diri, seperti masalah hubungan, finansial, cinta, dan lainnya. Agar hal itu bisa diantisipasi, masyarakat hendaknya lebih memperhatikan lingkungan sekitar, terutama apabila ada orang yang dikenal menunjukkan perubahan perilaku dan menarik diri dari interaksi sosial.

”Artinya, kepekaan harus ditingkatkan. Semoga tidak ada lagi kasus seperti itu,” katanya.

Lebih lanjut Amalia mengatakan, lingkaran terdekat seseorang, terutama keluarga, bisa menjadi benteng pertama mengidentifikasi munculnya niat bunuh diri. ”Jangan biarkan mereka sendiri dan semakin tenggelam dalam kesedihannya. Orang yang sedang berpikir bunuh diri diajak berkonsultasi dengan ahli yang kompeten demi mengatasi depresinya,” ujarnya.

Baca Juga :  Karyawan Sawit Ditemukan Tewas Gantung Diri

Menurut Amalia, ada beberapa teknik yang terbukti efektif mengatasi depresi. Antara lain, Cognitive Behavior dan Behavioral Activation. Terapi kognitif (Cognitive Behavior) digunakan untuk membantu penderita gangguan kesehatan mental mengubah sudut pandang terhadap permasalahan atau situasi menantang dalam hidupnya, sekaligus cara bereaksi terhadap permasalahan tersebut.

Teknik lainnya, Behavioral Activation (BA), merupakan salah satu metode cognitive behavioral yang telah banyak dilakukan untuk mengobati depresi. Metode BA berfokus untuk mengaktivasi otak seseorang dengan meningkatkan keterlibatan seseorang dalam aktivitas di kehidupannya sehari-hari.

”Namun, bagi orang-orang yang mengalami masalah atau stres hendaknya mencoba untuk mencari pertolongan tidak hanya ke orang terdekat, tapi juga ke profesional,” ujar Amalia yang juga membuka konsultasi berupa konseling hingga kelas psikolog.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *