Sampit Kebanjiran, Aktivitas Sekolah Terpaksa Diliburkan

sampit kebanjiran
KEBANJIRAN: Rumah warga di Kecamatan Baamang yang tergenang banjir, Selasa (16/4/2024). (YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan sejumlah ruas jalan di Kota Sampit tergenang banjir. Bahkan, aktivitas belajar hari pertama pascalibur Idulfitri 1445 terpaksa harus diliburkan karena akses jalan menuju sekolah yang terendam.

”Aktivitas sekolah diliburkan. Anak-anak belajar di rumah saja, karena jalan masuk dan halaman di SDN 3 Sawahan tergenang banjir. Untuk sekolah alhamdulillah tidak sampai tergenang,” kata Multazam, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Selasa (16/4/2024).

Bacaan Lainnya

Laporan yang diterima BPBD Kotim melalui BMKG Kotim, sejumlah titik ruas jalan yang tergenang banjir disebabkan hujan pada Senin (15/4/2024).

Hujan itu disebabkan beberapa faktor, di antaranya pola angin konvergensi di sekitar wilayah Kalimantan tengah dan Kalimantan Barat.

”Faktor itu yang menyebabkan terjadinya anomali suhu pada permukaan air laut di wilayah Laut Jawa yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Kotawaringin Timur dan sekitarnya,” katanya.

Pantauan Radar Sampir, sejumlah ruas jalan di Kota Sampit tergenang banjir seperti di Jalan Suka Bangsa, Jalan Jaya Wijaya, Jalan Anggur, dan sekitarnya yang berada di dataran renah serta dekat dengan anak sungai dan drainase.

Hujan yang terjadi mengakibatkan air meluap hingga membanjiri pekarangan rumah warga dan masuk rumah.

Kondisi itu dialami Yuni, warga Kecamatan Baamang yang sudah dua hari mengungsi ke rumah keluarga. Banjir tak hanya membuat pekarangan rumahnya menjadi danau, tetapi juga seisi rumahnya terendam.

”Di pekarangan rumah, ketinggian banjir sudah selutut orang dewasa. Sekitar 30 cm dan air sudah masuk merendam seisi rumah dengan ketinggian sekitar 15 cm di atas mata kaki,” kata Yuni.

Rumahnya yang berdekatan dengan anak sungai, tepatnya di Jalan Suka Bangsa menjadi risiko yang harus dihadapi.

”Air sudah masuk rumah dari kemarin sore saat hujan. Posisi rumah persis di pinggir anak sungai (drainase), jadi air cepat naik. Ditambah hujan dan air pasang, dua hari ini air semakin naik. Biasanya kalau sudah banjir seperti ini, 3-4 hari baru surut,” katanya.

Kejadian banjir bukan kali pertama dialami Yuni dan tetangganya. Hampir setiap tahun rumahnya kebanjiran sejak 2021 lalu. Bahkan, tahun ini sudah tiga kali rumahnya kebanjiran.

”Sebelumnya enggak pernah banjir. Kalau tidak salah banjir yang sampai masuk rumah itu terjadi tahun 2021 dan hampir setiap tahun sejak tahun itu kebanjiran. Tahun ini sudah tiga kali kebanjiran, pertengahan Januari, awal Maret dan pertengahan April dan setiap banjir masuk rumah selalu mengungsi ke rumah ibu mertua dekat rumah saya, yang bangunannya lebih tinggi, tapi hari ini air sudah mulai masuk dapur rumah orang tua,” katanya.

Kejadian banjir cukup membuatnya kerepotan mengamankan barang-barang dan perabotan rumah.

”Kemarin saya dan suami sudah angkut-angkut barang. Hari ini air naik lagi, angkut barang lagi. Berkas-berkas juga sempat terkena banjir karena lupa  diamankan. Baju di lemari bagian bawah juga sudah terendam dan laci perabotan yang biasa tidak sampai terendam ini sampai tergenang banjir,” ujarnya.

Seisi rumahnya sudah bagaikan ketumpahan air teh, akibat genangan air sungai yang berwarna kemerahan.

”Dari dua kali banjir sebelumnya. Ini banjir yang paling dalam. Saya mengira pemerintah daerah mengeruk anak sungai dan drainase bisa berkurang mengatasi banjir, ternyata malah semakin parah,” katanya.

Meskipun mengalami banjir yang membuat pekerjaannya tak fokus, Yuni tak kaget dengan banjir yang dialami.

”Sudah sering banjir, jadi sudah tidak kaget lagi. Dijalani, dinikmati, disyukuri saja. Alhamdulillah masih bisa tidur di tempat yang sangat layak. Mungkin begini rasanya penderitaan warga Desa Hanjalipan yang sudah terbiasa rumahnya kebanjiran, menjadi hal yang biasa. Mereka menerima keadaan dan menghadapi kenyataan,” katanya. (hgn/ign)

Pos terkait