Penyandang penyakit thalasemia memerlukan dukungan dari berbagai pihak untuk terus semangat berjuang agar tetap sehat. Hari Thalesemia Sedunia jadi momentum memperkuat kebersamaan.
HENY PUSNITA, Sampit | radarsampit.com
Persatuan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Kalteng memperingati Hari Thalesemia Sedunia yang jatuh pada 8 Mei 2025 dengan mengadakan acara hiburan penuh makna di Resto Pondok Jelawat Sampit, Sabtu (24/5).
”Saya sangat berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang sudah membantu menyukseskan acara ini. Dari tahun ke tahun, kami merayakan Hari Thalesemia di Klinik Thalesemia RSUD dr Murjani Sampit dengan waktu yang singkat karena masih di jam layanan. Namun, di tahun ini ada yang berbeda, berkat dukungan dari beberapa pihak kita dapat berkumpul merayakan hari thalesemia dengan menghibur anak-anak penyandang thalesemia di Resto Pondok Jelawat ini,” kata Renny Setio Dewi, Ketua POPTI Kalteng, Sabtu (24/5) sore.
Renny bersyukur, berkat dukungan sponsor, acara itu dapat berlangsung meriah dan sukses menghibur anak-anak.
”Tahun 2025 ini jumlah penyandang thalesemia di Kalteng bertambah menjadi 70 orang. Sebanyak 50 orang di antaranya dari Kotim dan sisanya dari Katingan dan Seruyan yang menjalani perawatan rutin di RSUD dr Murjani Sampit,” katanya.
Kehadiran POPTI tidak hanya untuk memberikan pelayanan untuk anak-anak thalasemia tetapi juga wadah untuk saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.
”POPTI Kalteng hadir agar kita semua saling mendukung merangkul dan saling menguatkan. Sudah kurang lebih empat tahun, POPTI mendapat dukungan penuh dari Pemkab Kotim untuk anak-anak thalesemia. Pemkab Kotim tahun lalu juga telah meminjamkan bangunan di Jalan Ahmad Yani yang sekarang menjadi rumah singgah POPTI,” ujarnya.
Bupati Kotim Halikinnor melalui Staf Ahli Bupati Kotim Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Wim Reinardt Kalawa Benung mengatakan, peringatan Hari Thalasemia Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global tentang thalasemia dan mengingatkan pentingnya diagnosis dini, akses ke perawatan, dan pencegahan.
”Thalassemia adalah penyakit genetik kelainan darah bawaan yang membutuhkan perhatian serius, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga sosial dan emosional oleh karena itu, momen ini menjadi sangat penting, tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang thalassemia, tetapi juga untuk memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mendukung para penyintas dan keluarga,” kata Wim.
Peringatan Hari Thalesemia Sedunia 2025 mengangkat tema, “Bersama untuk Thalasemia: Satukan Komunitas, Utamakan Pasien”. Tema ini menekankan pentingnya dukungan komunitas dan penanganan pasien thalasemia yang lebih baik.
”Tema yang diangkat tahun ini sangat tepat untuk menyatukan komunitas memprioritaskan pasien adalah ajakan nyata untuk membangun solidaritas kepedulian, serta kebijakan kesehatan yang berfokus pada hak dan kebutuhan pasien,” ujarnya.
Pemkab Kotim juga memberikan apresiasi kepada BPJS Kesehatan Kotim yang berperan memberikan akses layanan kesehatan untuk pasien thalesemia.
”Kami memahami bahwa kebutuhan pasien thalesemia tidak hanya sebatas pengobatan, tetapi juga akses pada informasi dukungan mental, serta keberlanjutan terapi jangka panjang,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi yang diwakili Kepala Bidang Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho menambahkan bahwa momen peringatan Hari Thalesemia Sedunia menekankan komitmen bahwa penyandang thalasemia bukan sekadar pasien, tapi anak-anak bangsa yang berhak atas masa depan, pendidikan, cinta, dan hidup yang layak.








