Waduh…! Setelah Dipolisikan, Pemain Kalteng Putra akan Digugat Perdata

kalteng putra
PELAPORAN: Kuasa hukum Manajemen Kalteng Putra Jefrico Seran bersama Manajer Tim Kalteng Putra Sigit Widodo saat membuat laporan ke Krimsus Polda Kalteng, Kamis (25/1/2024). (DODI/RADAR SAMPIT)

PALANGKA RAYA, radarsampit.com – Unggahan sejumlah pemain Kalteng Putra soal keterlambatan pembayaran gaji tak hanya berujung di polisi. Manajemen Laskar Isen Mulang menyiapkan gugatan perdata karena merasa telah dirugikan hingga miliaran rupiah karena pemain tak bertanding di sisa laga yang ada.

”Kami akan gugat secara perdata. Tidak ada yang dilanggar oleh manajemen dan mereka sudah profesional,” kata Jefrico Seran, penasihat hukum manajemen Kalteng Putra, Senin (29/1/2024).

Bacaan Lainnya

Menurut Jefrico, gugatan perdata itu sedang disusun. Langkah tersebut juga merupakan bagian dari hak hukum Manajemen Kalteng Putra. Termasuk pelaporan ke polisi pekan lalu terkait pencemaran nama baik dan dugaan pelanggaran Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

”Terkait postingan itu kami keberatan dan melapor secara hukum. Ingat, kita sama-sama memiliki hak hukum. Nanti kita buktikan saja dalam persidangan,” ujarnya.

Lebih lanjut Jefrico menuturkan, manajemen meminta para pemain bertanding dengan baik dan semangat meraih hasil positif dalam setiap laga. Namun, hal itu tidak dilakukan. Apalagi dalam laga kandang melawan Persipura Jayapura di Stadion Tuah Pahoe, Kalteng Putra harus bertekuk lutut.

Baca Juga :  Drama Sepakbola Porprov Kalteng 2023 Belum Berakhir

Mengenai tudingan keterlambatan pembayaran gaji, Jefrico menegaskan, dalam kesepakatan para pemain dikontrak per musim dengan pembayaran awal 30 persen. Sisanya, dibayar per termin. Akan tetapi, manajemen mengambil kebijakan membayar per bulan dan selalu lancar.

Di sisi lain, meski tidak dibayar per bulan, ketika akhir kompetisi dipastikan semua lunas. Hal itu, kata Jefrico, jelas dalam klausul kontrak.

”Gaji mereka itu besar. Ada yang dikontrak Rp200-500 juta, ada Rp150 juta dan itu per musim. Jika dihitung per bulan, ada Rp30-80 juta. Jadi, pemain dikontrak per musim, bukan seperti karyawan. Nah, dalam konteks ini, manajemen memberikan keringatan dengan membayar per bulan biar mereka ada pemasukan,” ujarnya.

Menurut Jefrico, tak jadi masalah apabila gaji pemain belum dibayar per bulan, karena kontrak mereka  per musim. Di akhir musim itulah kontrak pembayaran pemain wajib dilunasi.



Pos terkait