Abdul Kadir: Program Pembangunan di Kotim Dinilai Belum Konsisten

Pertanyakan Kelanjutan Proyek Jalan dan Jembatan Mentaya Seberang

abdul kadir
Abdul Kadir, Anggota DPRD Kotim

SAMPIT, radarsampit.com – Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Abdul Kadir menilai Pemkab Kotim belum konsisten dengan program pembangunan yang telah dicanangkan. Di antaranya pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di wilayah Kecamatan Seranau atau Mentaya Seberang.

”Pemerintah masih inkonsistensi dengan program yang sudah ditetapkan dan dicanangkan, terutama dari aspek infrastruktur jalan. Selama lima tahun terakhir ini  belum melanjutkan  pembangunan jalan dan jembatan dari Cempaga-Seranau,” kata Abdul Kadir, kemarin (8/7).

Bacaan Lainnya
Gowes

Kadir menuturkan, pemerintah awalnya gencar membuka keterisolasian di wilayah itu melalui proyek multiyears. Namun, proyek tersebut terhenti sampai pembukaan badan jalan. Selain itu, hanya ada sebagian jembatan beton yang dibuat permanen.

”Padahal jalan tersebut digunakan untuk kepentingan pembangunan di segala bidang di wilayah Seranau. Termasuk ekonomi mulai menggeliat semenjak ada jalan itu,” katanya.

Baca Juga :  Elpiji 3 Kilogram Mulai Langka di Pulang Pisau

“Namun sayangnya jalan itu tidak secara serius ditingkatkan sampai pengaspalan yang seharusnya bisa dilanjutkan pemerintah daerah. Terlepas siapa pun pemimpin yang terpilih dari periode waktu ke waktu,” lanjut Abdul Kadir.

Lebih lanjut dia mengatakan, pembangunan jalan tersebut dilaksanakan tahun 2018-2020 dengan sistem tahun jamak. Menelan dana sekitar Rp70 miliar. Setelah itu, pembangunan tidak berlanjut hingga saat ini.

Jalan tersebut kini masih berupa timbunan latrit tanah merah. Sejumlah titik kerap mengalami kerusakan parah akibat lalu lintas angkutan hasil pertanian dan perkebunan warga pada jalur tersebut.

Jalan itu merupakan satu-satunya penghubung akses darat ke Kecamatan Seranau yang terletak di seberang Kota Sampit. Kecamatan ini terisolasi jalan darat karena belum ada jembatan melintasi Sungai Mentaya untuk menuju pusat kota.

Akses jalan darat yang saat ini memungkinkan adalah melalui Kecamatan Cempaga karena sudah ada jembatan. Namun, untuk menuju pusat Kota Sampit, warga harus menempuh perjalanan cukup jauh, karena harus memutar menyusuri akses jalan yang tersedia. (ang/ign)



Pos terkait