Hasil Penelitian, Ternyata Orang Indonesia Tak Bisa Lepas dari Ponsel

kecanduan hp
Ilustrasi kecanduan hp

Radarsampit.com – State of Mobile 2024 yang hasil riset data.ai sepanjang 2023 menempatkan Indonesia pada peringkat pertama negara pengguna mobile phone dengan durasi terlama. Namun, apakah screen time yang tinggi itu berbanding lurus dengan kebermanfaatannya?

Devie Rahmawati, peneliti sosial dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa konsumsi digital masyarakat melonjak tajam sejak pandemi. ”Kenapa? Karena kita semua mendadak digital. Kondisi yang mengharuskan kita lebih banyak di rumah membuat konsumsi digital naik signifikan,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos pada Kamis (25/1/2024) lalu.

Bacaan Lainnya

Pernyataan Devie selaras dengan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Pada 2018 pengguna internet tercatat 171,17 juta. Angkanya menjadi 196,71 juta pada 2019–2020, saat pandemi melanda. Angkanya terus merangkak naik hingga 215,63 juta tahun lalu.

Terkait laporan State of Mobile 2024, Devie menyebutkan bahwa 6 dari 10 orang Indonesia adalah generasi Z dan milenial dengan rentang usia 14–43 tahun. ”Artinya, merekalah penghuni utama ruang digital,” ungkapnya.

Baca Juga :  Perebutan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kotim Dimulai

Semakin muda usianya, keluangan waktunya semakin banyak. Maka, semakin luas pula yang digali di internet. Namun, itu tidak berlaku untuk balita dan kanak-kanak.

Psikolog Putu Andani menegaskan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak menyarankan bocah berusia 1 tahun ke bawah mengakses gawai. Sedangkan screen time anak berusia 2–4 tahun tidak boleh lebih dari 1 jam sehari.

”Di luar usia tersebut, screen time dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Namun, kegiatan fisik serta interaksi dua arah tetap diutamakan,” papar Putu.

Terkait kualitas screen time itu, Devie mengingatkan para orang tua bahwa anak dan remaja perlu pendampingan. ”Orang tua yang pegang dan kasih tiket (izin menggunakan gadget, Red). Jadi harus bijak dalam mengawasi durasi dan kualitas tontonan anak,” tuturnya.

Jika berlebihan, screen time membawa dampak serius pada aspek fisiologis dan sosiologis. Dampak fisiknya adalah gangguan kesehatan. Sedangkan dampak sosialnya adalah kondisi mental dan sensitivitas generasi Z dan milenial.



Pos terkait