Kawin Suntik, Cara Pemkab Kotim Tingkatkan Produktivitas Sapi

sapi kotim
VAKSINASI: Petugas dari Distan Kotim saat akan memberikan vaksin PMK kepada sapi milik peternakan di wilayah setempat, beberapa waktu lalu. (Dok. YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Pertanian Kotim berupaya memacu produktivitas ternak sapi dengan cara inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kotim Endrayatno mengatakan, kendala yang dialami para peternak terhadap produktivitas sapi adalah kurangnya sapi jantan.

Bacaan Lainnya

“Kita ada program inseminasi buatan untuk menggalakan ternak sapi di wilayah ini,” kata Endrayatno.

Inseminasi buatan dilakukan guna menghasilkan bibit sapi yang unggul dengan genetik yang baik sehingga bobot sapi dapat ditingkatkan. Dari inseminasi buatan adalah,  turunannya bisa lebih bagus dibandingkan sapi lokal karena memang dipilih dari bibit sapi yang unggul.

“Di Kotim tingkat keberhasilan IB mencapai 70 persen. Kalau sudah masa kawin harus cepat disuntikan, kalau kelewatan tidak akan berhasil,” ungkapnya.

Jika prosedurnya diikuti dengan teliti maka hasilnya akan bagus. Kemampuan petugas dan laporan peternak yang akurat terhadap keadaan sapinya dinilai sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan IB.

Baca Juga :  Jaring Lebih Banyak Pemilih Pemula

Dalam program inseminasi buatan ini, dinas pertanian  sudah menyiapkan petugas khusus beserta sperma beku sapi yang merupakan bahan IB di lapangan guna melancarkan program tersebut.

“Jadi jika sewaktu-waktu ada peternak yang ingin melakukan IB maka bisa segera dilakukan,” tuturnya.

Upaya lain yang dilakukan dalam meningkatkan produktivitas ternak sapi juga dilakukan dengan pembinaan kesehatan hewan serta pembinaan dalam pengolahan limbah untuk pakan ternak.

Sementara itu, populasi sapi di Kotim saat ini sangat minim,  sekitar 4.000 ekor. Jumlah ini tidak sebanding dengan kebutuhan konsumsi sapi Kotim yang dalam sehari mencapai delapan ekor sapi. Untuk sapi lokal Kotim sendiri hanya mampu menyuplai sekitar satu ekor dari yang dibutuhkan.

“Populasi sapi di Kotim sangat minim. Karena virus penyakit mulut dan kuku (PMK), tidak ada pasokan dari luar sehingga sapi lokal dipotong terus, padahal sebelumnya sekitar 6 ribu ekor,” tandasnya.

Pos terkait