Tingginya curah hujan belakangan ini membuat petani di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) merugi. Banjir jadi bencana yang menghantam mata pencaharian mereka.
YUNI PRATIWI, Sampit
Pemandangan banjir langsung menyambut ketika memasuki Desa Lampuyang. Di sepanjang jalan desa itu, air merendam halaman rumah warga. Bahkan, hampir sejajar dengan teras rumah. Sebagian warga terlihat menjemur padi yang telah dipanen di pinggir jalan yang datarannya sedikit tinggi dengan beralaskan terpal.
Selain merendam rumah warga, banjir juga menggenangni sawah petani setempat. Hal itu membuat padi yang ditanam rusak. Bahkan gagal panen. Padi yang mulai menguning dibiarkan begitu saja. Sebab, meski memasuki waktu panen, padi tersebut tidak bisa lagi dipanen karena busuk akibat terendam banjir.
Padi yang terendam rata-rata siap panen. Ketinggian banjir yang merendam sawah hampir mencapai lutut orang dewasa.
Mustafiin, salah seorang petani yang sawahnya terendam banjir mengatakan, meski 20 hektare sawahnya terendam banjir dan sebagian gagal panen, area sawahnya belum mengalami banjir parah dibandingkan sawah di kawasan lain.
”Sekitar 20 hektare yang terendam, tapi yang paling parah di dekat tower. Semua petani gagal panen karena semua sawahnya terendam banjir,” ujarnya.
Dari luasan sawah yang dimiliki, Mustafiin menuturkan, sebelum banjir sudah lebih dulu gagal panen akibat serangan hama wereng. Banjir yang merendam membuat Mustafiin mengalami kerugian lebih besar.
”Awalnya serangan hama yang membuat kami gagal panen. Ditambah banjir, double jadinya,” katanya.
Sebenarnya, ungkap Mustafiin, sawah yang terendam banjir dan gagal panen hanya 20 persen. Selebihnya gagal panen akibat hama wereng. Meski begitu, banjir yang meredam sawahnya membuat panen yang harusnya dilakukan enam bukan sekali menjadi tidak maksimal.
Menurutnya, banjir yang merendam persawahan di desa tersebut merupakan yang terparah dalam 30 tahun terakhir. ”Hampir 30 tahun di sini, baru ini yang terparah banjirnya,” ujarnya.
Derita petani itu sampai ke Bupati Kotim Halikinnor. Bersama rombongan, Halikinnor meninjau langsung kondisi sawah yang terendam banjir. Dari kunjungan itu, Pemkab Kotim akan mengusahakan bantuan benih padi jenis siam epang seperti yang ditanam para petani.
Para petani berharap dengan adanya bantuan benih dari pemerintah, mereka bisa kembali menanam padi apabila banjir yang merendam sawah mulai surut.
Dari 8.000 hektare luasan sawah di desa tersebut, hampir 3.500 hektare sawah siap panen terendam banjir yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Dengan luasan ribuan hektare itu, kerugian yang diderita petani totalnya diprediksi mencapai Rp 5 miliar.
Biasanya, dalam satu hektare petani bisa menghasilkan hingga 5 ton padi sekali panen. Banjir tersebut membuat petani hanya bisa menghasilkan 2 ton per hektare.
Halikinnor mengatakan, banjir yang merendam sawah petani di desa itu menimbulkan kerugian yang sangat besar. Pihaknya berupaya memberikan bantuan pada petani, meski tidak bisa mengganti kerugian materi yang dialami mereka.
”Kami berupaya memberikan bantuan, walaupun belum bisa maksimal karena tahun anggaran sudah berjalan,” ujarnya.
Pihaknya akan berupaya memasukkan anggaran untuk kondisi yang dialami para petani di tahun yang akan datang. Untuk mengatasi banjir di kawasan tersebut, pemerintah akan melakukan pengerukan. Diharapkan dengan pengerukan di saluran air, banjir bisa surut. (***/ign)








