SAMPIT, radarsampit.com – Petahana dalam pemilihan kepala daerah bukan sosok yang harus dikhawatirkan pesaingnya. Petahana bisa saja tumbang oleh penantangnya yang memiliki strategi mumpuni, tangguh, dan mental petarung. Bahkan, oleh pemula sekalipun.
Hal tersebut disampaikan mantan calon wakil bupati Kotim Supriadi, Jumat (17/3). Pria yang juga pernah menjabat Wakil Ketua DPRD Kotim dari Partai Golkar ini berbagi pengalamannya mengikuti ajang pilkada 2020 lalu.
”Dalam kancah perpolitikan di Kalteng ini, sejarah mencatat petahana tidak selalu unggul. Bahkan bisa dikalahkan politikus pemula. Semua calon memiliki peluang dan kesempatan yang sama, tinggal mereka membangun koalisi partai politik dan kekuatan masyarakat yang solid,” kata Supriadi.
Pada Pilkada Kotim 2020 lalu, Supriadi berpasangan dengan Taufiq Mukri (almarhum). Dalam perolehan suara, keduanya menduduki posisi paling buncit dari empat kontestan dengan 20.353 suara.
Menurut Supriadi, untuk maju pilkada tidak cukup hanya mengandalkan modal logistik saja, yakni uang. Akan tetapi, juga harus mengandalkan jejaring politik hingga kedekatan dengan masyarakat.
Supriadi menuturkan, semua faktor itu harus dikantongi pasangan calon yang berniat maju. Karena itu, pasangan petahana pun tidak ada jaminan duduk kembali jika tidak pandai mengatur strategi dengan mengantongi faktor tersebut.
Supriadi melanjutkan, elemen parpol dan masyarakat harus dipadukan. Sebab, jika keduanya bisa dirangkul dengan maksimal, akan melahirkan kekuatan yang bisa memenangkan konstelasi.
”Bagaimana memadukan dua kekuatan dan kepentingan yang sama-sama tidak mudah mendapatkannya. Parpol perlu komitmen tinggi dan keterlibatan pengurus hingga kader, bahkan petinggi partai dalam merealisasikannya, sementara kekuatan rakyat juga perlu komitmen dan kemampuan untuk meyakinkan rakyat memberikan visi, misi, dan program hingga mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat,” ujar Supriadi.
Supriadi mengaku merasakan sendiri maju bertarung dalam pilkada tanpa mengantongi finansial yang banyak. Dia hanya mengandalkan elektabilitas dan jejaring politik di kancah nasional. Alhasil, dia berhasil mendapatkan perahu politik, yakni Golkar dan Nasdem tanpa mahar sepeser pun. Hal itu bisa dia dapatkan lantaran jejaring politik yang dia bangun sejak awal.
”Jadi, dalam pilkada tidak cukup hanya bermodal uang, tetapi juga memiliki koneksi dan kesamaan pandangan untuk mencalonkan diri sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.
Supriadi melanjutkan, meski memiliki jejaring politik baik yang didukung finansial mumpuni, apabila pasangan calon tidak memiliki mental petarung, sama saja tidak ada artinya. Kekalahan di depan mata pasti akan terjadi.
”Pilkada perlu persiapan matang dan memiliki mental sebagai petarung, bukan sekadar pelengkap, apalagi coba-coba. Siapkan mental dan niat untuk membangun daerah dengan berbagai kekurangan dan kelebihan serta pandangan masyarakat,” katanya. (ang/ign)








