Merawat Warisan Leluhur Bersama KUR BRI

Solusi Nyata Memajukan dan Meningkatkan Produktivitas UMKM

penjual jamu
JAMU TRADISIONAL: Miya bersama suami berjualan di lokasi Car Free Day yang saat ini menjadi Pasar Ramadan, Minggu (23/11/2025). HERU/RADAR SAMPIT 

Usaha mikro kecil seringkali terbentur modal untuk meningkatkan produktivitas. Kredit Usaha Rayat (KUR) hadir sebagai solusi nyata untuk memajukan dan meningkatkan produktivitas UMKM secara berkelanjutan.

HERU PRAYITNO, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Beragam jamu dalam kemasan botol ukuran 500 mililiter berjejer rapi di atas meja. Ada kunyit asam, jahe, beras kencur, temulawak, sirih, pinang majakani, teh rimpang, dan banyak lagi. Semua produk itu bikinan Miya sendiri.

Miya merupakan satu dari sekian banyak pedagang yang membuka lapak di area Car Free Day (CFD), Taman Kota Sampit, setiap Minggu pagi. Ramainya pengunjung CFD pun membawa berkah baginya dan para pedagang lain.

”Produk jamu itu berawal ketika saya kena Covid-19 dan sakit lambung kronis. Saya obati dengan jamu ramuan sendiri, ternyata sembuh. Dari situlah saya belajar membuat aneka ramuan herbal. Saat mencoba jual jamu, ternyata banyak yang pesan,” ujar perempuan bernama lengkap Sumiyati Yelawati saat dibincangi Radar Sampit, Minggu (23/11/2025).

Kini, produk minuman herbal yang diberi label ”Kreasi Miko” semakin populer di kalangan pengunjung CFD. Dia melihat adanya kesadaran masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat dengan minum produk herbal.

”Produk yang saya jual bahan semua fresh. Seperti kunyit, saya tidak menggunakan kunyit bubuk, tapi kunyit yang fresh. Juga tidak ada pengawet maupun pemanis buatan,” ujar Miya.

Selain minuman herbal, wanita berhijab ini juga menjual aneka kue basah tradisional yang menjadi pelengkap yang sempurna bagi pengunjung CFD. Kue-kue seperti klepon, nagasari, dan lapis legit ini menjadi favorit banyak orang, terutama bagi mereka yang ingin menikmati cemilan ringan sembari menikmati suasana di Taman Kota Sampit.

Dengan berjualan di CFD, Miya meraih keuntungan yang signifikan. Keberhasilan ini tak terlepas dari kualitas produk yang dijual serta strategi pemasaran yang tepat. Interaksi langsung dengan pelanggan memungkinkan Miya untuk lebih memahami keinginan konsumen dan meningkatkan kualitas pelayanan.

“CFD adalah kesempatan yang sangat baik untuk memperkenalkan produk saya. Tidak hanya bisa langsung menjual, saya juga bisa berinteraksi dengan pelanggan dan mengetahui lebih banyak tentang kebutuhan mereka. Alhamdulillah, banyak yang kembali lagi karena merasa puas dengan produk kami. Kalau Ramadan seperti sekarang, lokasi CFD jadi Pasar Radaman, saya buka lapak di sana setiap sore,” kata istri Eko Prasetyo ini.

Keberhasilan Miya juga tak lepas dari modal usaha yang didapatnya dari BRI. Kucuran kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 80 juta pada Agustus 2024 lalu dimanfaatkan untuk memperbesar produksi jamu maupun makanan ringan.

”Saya dapat KUR Rp80 juta dengan tenor tiga tahun, angsuran Rp2,4 juta per bulan. Bunganya ringan, hanya enam persen per tahun,” ujar wanita yang tinggal di Perumahan Fajar Indah Sampit ini.

Dengan KUR BRI, usaha Kreasi Miko bisa terus berkembang. Tidak hanya di CFD Taman Kota Sampit, tetapi juga ke pasar yang lebih luas. Dari modal yang dimiliki saat ini, dia berencana untuk memperkenalkan lebih banyak varian minuman herbal dan kue basah, serta menjaga kualitas bahan baku yang digunakan agar tetap alami dan berkualitas.

”Saat ini, penjualan khusus jamu saja bisa mencapai 1.200 botol per bulan, dengan harga di kisaran Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu per botol. Omset belasan juta dari jamu saja, belum termasuk kue tradisional,” ujarnya.

Dalam bertransaksi, Miya juga menerima pembayaran non-tunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard  (QRIS). Penggunaan metode pembayaran ini semakin diminati, karena mudah dan praktis. ”Dengan QRIS, tidak repot ngasih uang kembalian. Kita juga tidak perlu khawatir dapat uang palsu. Catatan transaksi juga lebih rapi,” ujarnya.

Pos terkait