Sejumlah pedagang aneka kue dan masakan cepat saji di Pasar Ramadan Kota Sampit mengeluhkan sepinya penjualan. Sejumlah pedagang bahkan memilih berhenti karena jualannya tak laku.
====
Sebelumnya ada 40 pedagang yang difasilitasi Pemkab Kotim berjualan di dalam area Taman Kota Sampit. Pemkab memfasilitasi pemeriksaan rapid test, tenda, dan listrik secara gratis. Pedagang sempat merasa keberatan dengan lokasi tempat mereka berjualan.
Namun, mereka terpaksa mengikuti keputusan Pemkab Kotim. Apalagi Pemkab berjanji membantu mempromosikan dan mengadakan hiburan di area panggung untuk menarik pelanggan.
”Kami hargai niat baik pemerintah untuk mencegah Covid-19. Kami bersyukur tahun ini Pasar Ramadan diadakan. Tetapi, kami kecewa ditempatkan di dalam, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Jubaenah, pedagang Pasar Ramadan kepada Radar Sampit, Senin (26/4) lalu.
”Saya dari awal tidak sependapat ditempatkan di dalam. Karena, di dalam sini orang kurang tahu ada pasar. Mau masuk juga mikir-mikir,” katanya.
Menurutnya, apabila Pemkab Kotim mau mencegah Covid-19 di area Pasar Ramadan, paling tepat lokasinya seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni di luar taman. Pembeli bisa langsung membawa sepeda motornya saat membeli dan langsung pulang.
”Kalau di dalam, yang ada malah orang jadi ngumpul. Duduk-dudukan di sini, yang malah menimbulkan kerumunan,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, selama 15 hari Ramadan berjalan sampai Selasa (27/4), pendapatan pedagang di Pasar Ramadan menurun drastis. Jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Jubaenah mengungkapkan, selama berjualan di dalam area taman, pendapatan per hari berkisar Rp 800 ribu – Rp 2 juta per hari pada minggu pertama. Memasuki pertengahan Ramadan, penjualan turun di kisaran Rp 800 ribu – Rp 1,5 juta.
”Jualan di sini sepi sekali. Mendapatkan Rp 1 juta saja syukur alhamdulillah. Memang benar rezeki itu tidak akan ke mana. Tetapi, kalau rezeki itu tidak dikejar, tidak akan datang,” katanya.
Saat berdagang di pinggir taman kota seperti tahun-tahun sebelumnya, lanjutnya, pendapatan selama sepekan pertama bisa berkisar Rp 3-8 juta per hari. Namun, setelah memasuki pertengahan, pendapatan berkurang di kisaran Rp 1,5-3 juta dan kembali ramai di minggu terakhir Ramadan.
”Katanya pemerintah tidak ada dana. Kami dulu itu bayar sebulan sampai Rp 2 juta sanggup saja, karena memang penghasilannya sudah jelas. Kalau di sini sampai bayar kami berpikir untuk jualan,” kata perempuan yang sudah belasan tahun berjualan di Pasar Ramadan ini.
Jubaenah berharap Pemkab Kotim memasang spanduk agar masyarakat Kotim mengetahui ada Pasar Ramadan. ”Banyak yang tidak tahu ada pasar di sini. Mudah-mudahan bisa dipasang spanduk supaya masyarakat tahu di sini ada Pasar Ramadan,” harapnya.
Pedagang lainnya mengaku mengalami hal sama. Pendapatan selama di Pasar Ramadan jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Lokasi yang berada di dalam Taman Kota Sampit membuat pembeli enggan masuk.
”Jualan saya kurangin. Lihat jualan sepi begini. Sehari pendapatan Rp 500 ribu dan paling mentok Rp 1,5 juta. Dulu jualan di Pasar Ramadan di pinggir taman pendapatan bisa sampai Rp 3-5 juta,” ucap pedagang yang meminta namanya tak disebutkan ini.
Dia berharap tahun depan Pemkab Kotim tak lagi menetapkan area dalam Taman Kota Sampit sebagai tempat Pasar Ramadan. ”Biar seperti tahun-tahun sebelumnya saja. Bayar pun tidak apa-apa,” katanya.
Pantauan Radar Sampit, sebanyak 20 tenda yang disediakan Pemkab Kotim, sebagian kosong tanpa pedagang. Sepinya penjualan membuat 18 pedagang memilih untuk tidak berjualan.







