PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia adalah dengan perbaikan gizi. Namun kenyataanya masalah gizi masih pekerjaan rumah yang tidak mudah khususnya terkait stunting.
Hingga kini stunting merupakan salah satu masalah gizi utama yang mendera balita Indonesia yang belum sepenuhnya mampu teratasi.
Di Kabupaten Kotawaringin Barat pada tahun 2021 terdata anak stunting sekitar 9,68 persen pada tahun 2021 dan telah berhasil diturunkan menjadi 4,78 persen di tahun 2022.
Hal itu terungkap saat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Kotawaringin Barat menggelar talk show Protein Hewani Cegah Stunting, peringatan hari gizi nasional tahun 2023 di aula Setda Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (5/2/2023).
Kegiatan itu menghadirkan dr Zahrin Afina dan Novi Cahyani, Ahli Gizi Dinkes Kobar sekaligus Ketua Persagi Kabupaten Kobar. “Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak karena kurangnya asupan gizi secara kronis dan infeksi berulang,” kata dr Zahrin Afina dalam pemaparannya.

Namun, lanjutnya, sebelum mendiagnosis anak menderita stunting, harus dilihat terlebih dahulu parameter lainnya. “Karena dengan melihat parameter pendukung lainnya, maka akan menambah referensi kita bahwa stunting itu terjadi karena kekurangan nutrisi atau karena hal yang lain. Sehingga kita dapat memberikan penanganan lanjutan dengan tepat,” tambahnya.
Menurutnya masa penting perkembangan anak terjadi pada seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK). “Seribu HPK adalah fase kehidupan yang dimulai sejak terbentuknya janin pada saat kehamilan (270 hari) sampai dengan anak berusia 2 tahun (730 hari). Pada periode inilah organ-organ vital (otak, hati, jantung, ginjal, tulang, tangan atau lengan, kaki dan organ tubuh lainnya mulai terbentuk dan terus berkembang,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pada masa ini juga disebut sebagai periode emas perkembangan anak. “Karena pada periode ini perkembangan akan sangat cepat terjadi pada sel-sel otak dan adanya pertumbuhan serabut-serabut saraf dan cabang-cabangnya sehingga terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks. Perkembangan otak ini bisa dikatakan hampir sempurna yaitu mencapai 80 persen, sehingga akan menentukan kualitas manusia di masa depan,” tegasnya.
Sementara itu Ketua Persagi Kobar, Novi Cahyani mengatakan bahwa stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronik yang bisa saja berhubungan dengan status sosial ekonomi, asupan nutrisi dan kesehatan ibu yang buruk, riwayat sakit berulang, dan praktik pemberian makan pada bayi dan anak yang tidak tepat.
“Salah satunya berupa kecukupan gizi ketika sang ibu sedang mengandungnya (hamil),” katanya.
Stunting dapat memberikan dampak jangka panjang dan jangka pendek. Dampak jangka pendek seperti meningkatkan angka kesakitan dan kematian dan risiko menderita berbagai penyakit infeksi. “Kemudian dampak jangka panjang yakni menurunkan kemampuan kognitif dan rendahnya Intelligence Quotient (IQ) dan kapasitas fisik,” katanya.
Cara mencegah stunting bisa dilakukan dengan rutin kontrol kehamilan untuk ibu hamil, memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bervariasi secara tepat waktu, adekuat (memadai), aman, dan higienis serta dengan cara yang benar.
Rutin menimbang berat badan (BB) dan mengukur panjang atau tinggi badan (TB) dan lingkar kepala dengan cara yang benar setiap bulannya, serta memperhatikan durasi tidur anak yang harus sesuai usianya.
“Yang sangat penting yakni memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. MPASI sesuai pedoman gizi seimbang harus mengandung sumber karbohidrat 35-55% dari total kebutuhan kalori, memprioritaskan pemberian protein hewani 10-15%, sumber lemak 30-45%, dan sayur atau buah sedikit saja sebagai pengenalan,” terangnya.








