Serunya Cerita Dalang Kadriansyah dalam Pertunjukan Wayang Banjar di Sampit

Nonton Semalam Suntuk, Penonton Dibuat Terharu Kisah Pilu

boks wayang kulit banjar (hgn) 2
LESTARIKAN KESENIAN: Dalang Muhammad Kadriansyah saat memainkan karakter wayang kulit dalam Pagelaran Wayang Kulit Banjar Panca Lima di halaman Kantor Bupati Kotim, Jumat (10/3) malam. (HENY/RADAR SAMPIT)

Raja Adipati Jenaka menjelaskan maksud kedatangannya beberapa waktu lalu ke Raja Maha Guru dengan niatan baik ingin menikahkan Nala Garing, anak dari Semar agar bisa menikah dengan Putri Sasi Udara.

Masih adanya hubungan ikatan persaudaraan membuat Dewa Sangga Langit luluh ingin membantu Nala Garing berkomunikasi dengan Raja Maha Guru. Dengan kepiawaiannya, akhirnya Raja Maha Guru menyetujui syarat 15 hari lagi datang ke kerajaan Dewa Langit.

Bacaan Lainnya

”Dalam masa 15 hari, putri tiba-tiba diculik Rahwana (bangsa jin), karena Rahwana juga menyukai putri. Lalu terjadilah pertempuran besar antara prajurit Rahwana dengan prajurit Raja Adipati Jenaka dan semua keluarga Pandawa,” kata Mahfud.

Pertempuran itu dimenangkan Raja Adipati Jenaka. Setelah itu terwujudlah pernikahan Nala Garing dengan Putri Sasi Udara.

”Ini hanya cerita singkatnya. Sebenarnya, Dalang membawakan cerita itu selama delapan jam, dari pukul delapan malam sampai empat subuh. Kami menikmati ceritanya yang sangat menghibur,” ujarnya.

Baca Juga :  Penghasilan Bukan Ukuran, Semangat Kebersamaan Menjalankan Bisnis Koran

Mata Mahfud sempat berkaca-kaca ketika dalang menceritakan kisah pilu Nala Garing. ”Jujur, kalau ceritanya diikuti dari awal sampai akhir, rasanya mau menangis saat Nala Garing dihina fisiknya habis-habisan oleh Putri. Dari hinaan itu, Nala Garing diberikan syariat oleh Raja Adipati Jenaka berupa ikat batang tubuh yang mampu memikat dan meluluhkan hati sang Putri. Dia langsung minta maaf karena sudah menghina dan seperti terhipnotis mendengar nyanyian Nala Garing. Mereka berdua akhirnya menikah. Itulah akhir ceritanya,” ujarnya.

Fauzi Rahman, asisten Dalang dalam Wayang Kulit Banjar Grup Panca Lima mengatakan, mereka berasal dari Kandangan dan sering berpindah tempat pentas. ”Kami diundang langsung Pak Bupati Kotim untuk mengadakan pentas Wayang Banjar di Kota Sampit. Kami sangat berterima kasih sudah diundang dan diberikan kesempatan untuk tampil mengenalkan wayang Banjar. Kami harapkan semua penonton yang hadir terhibur,” ujar Fauzi di sela pertunjukan berlangsung.

Di balik panggung, Fauzi mengatakan, ada sedikit perbedaan antara wayang kulit dalam tradisi Banjar dan Jawa. Pertama, dari bahasa yang digunakan dan kedua bahan pembuatan wayang.



Pos terkait