Pendirian Masjid Agung Wahyu Al Hadi telah melalui delapan tahapan hingga menghabiskan kurun waktu enam tahun pembangunan. Sebelum menjadi masjid megah terbesar di Kota Sampit, pendirian masjid ini sempat tak disepakati sejumlah pihak dan kini justru menjadi masjid kebanggaan umat Islam di Kotim.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Menjelang sore selepas salat ashar, sejumlah laki-laki terlihat sibuk mondar-mandir menenteng rantang mangkuk plastik berisi bubur ayam.
Bubur ayam lengkap dengan takjil sebanyak 100 porsi itu diampar alias dibentangkan panjang di atas lantai dalam masjid beralaskan tikar plastik membentuk huruf U dari sisi selatan, timur, utara menghadap ke barat (arah kiblat).
Limabelas menit menjelang waktu berbuka puasa, terdengar suara lantunan ayat suci Quran yang terdengar merdu menggema menggunakan alat pengeras suara.
Tepat pukul 17.36 WIB, suara sirine panjang pertanda waktu berbuka puasa telah tiba. Jemaah masjid yang hadir semua merapat duduk menyantap hidangan bubur ayam dan takjil yang selalu disiapkan tak kurang dari 100 porsi setiap hari oleh pengurus masjid selama Ramadan 1445 Hijriah.
Radar Sampit pun ikut berbaur berbuka puasa menikmati kudapan bubur ayam dan teh yang sudah tak lagi hangat namun tetap terasa nikmat.
Waktu berbuka cukup singkat kurang dari 20 menit, suara gemericik air saling bersahutan. Jemaah mensucikan diri mengambil air wudu untuk menunaikan salat magrib berjamaah.
Sekitar satu jam setelah salat magrib, jemaah kembali merapatkan barisan saf menunaikan salat tarawih 20 rakaat ditambah tiga rakaat witir ditutup bacaan qunut. Di hari ke-25 Ramadan 1445 Hijriah, Jumat (5/5/2024) malam, jemaah di Masjid Agung Wahyu Al Hadi hanya terisi satu barisan saf. Tak sebanding dengan luasnya masjid yang berukuran 3200 meter persegi yang semestinya dapat memuat kapasitas 2.500 jemaah.
Selesai salat tarawih dilanjutkan tadarus Quran yang pada malam itu hanya dilakukan oleh jemaah berusia muda bersuara merdu bernama Umam dan Fahmi secara bergantian.
Tak melihat keberadaan imam masjid, Radar Sampit kemudian menuju rumah imam yang berada di sisi utara masjid yang masih dalam kawasan masjid. Rumah mungil type 36 berwarna cat hijau itu mudah ditemukan. Putranya imam yang sedang duduk di teras mempersilakan masuk.
Sepasang suami istri terlihat duduk di ruang tengah baru saja menyelesaikan makan malamnya. Dialah Kiyai Haji Abdul Hadi Ahmad (75) yang menjadi imam tetap di Masjid Wahyu Al Hadi sejak tahun 2015 hingga sekarang. Didampingi istrinya, Hajjah Saudah (65), keduanya menyambut hangat maksud kedatangan Radar Sampit.
Haji Abdul Hadi Ahmad mengisahkan sekilas singkat perjalanan hidupnya sampai dipercaya Wahyudi Kaspul Anwar dan Supian Hadi untuk menjadi satu-satunya imam tetap di Masjid Agung Wahyu Al Hadi.
Nama Haji Abdul Hadi Ahmad semakin tersohor ketika ia berhasil mewakili Provinsi Kalteng mengikuti MTQ tingkat nasional di tahun 1974.
“Saya ini hanya orang dari keluarga sederhana yang dikenal karena kemampuan menjadi qori,” ucap pria asal Barabai, Provinsi Kalimantan Selatan.
Singkat cerita, setelah mendalami agama Islam di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pemangkih tahun 1970-1974, Abdul Hadi Ahmad hijrah melanjutkan pendidikan agama S-1 di IAIN Palangka Raya selama 29 tahun sejak 1974 dan baru dinyatakan lulus menyandang gelar sarjana tahun 2003.








