Petugas pemadam kebakaran saat ini harus memiliki banyak kemampuan selain memadamkan api. Pasalnya, warga kerap meminta mereka menyelesaikan sejumlah persoalan di luas tugas pokoknya.
HENY, Sampit
Menjinakkan amukan api bukan jadi satu-satunya tugas yang harus diselesaikan petugas damkar. Mereka juga harus menangani permasalahan warga, mulai dari membantu melepas cincin di jari kesempitan, mengevakuasi sarang tawon, hingga menangkap satwa liar, terutama hewan melata seperti ular.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kotim Hawianan mengatakan, ada banyak permasalahan masyarakat di luar kasus kebakaran yang kerap ditangani. Semua dilayani tanpa meminta bayaran sepersen pun.
”Sering kali petugas damkar bantu mengevakuasi satwa liar berbahaya. Paling sering ular, biawak, sarang tawon, mengatasi tumpahan minyak CPO di jalan aspal, membantu mengevakuasi mobil yang nyungsep masuk parit, sampai melepas cincin yang kesempitan sulit dilepas,” ujar Hawianan.
Menurut Hawianan, petugas damkar yang piket biasanya menerima laporan dari warga. Kemudian langsung menuju lokasi kejadian.
”Paling sering persoalan temuan satwa liar dan melepas cincin di jari. Kalau kasus satwa masuk rumah biasanya dilapor setelah pemilik rumah kaget menemukan binatangnya. Melihat lokasi kasusnya, kebanyakan binatang masuk rumah warga yang tidak jauh dari semak belukar,” katanya.
Seperti penanganan baru-baru ini, petugas damkar menangani kasus warga Jalan Iskandar yang kesulitan melepas cincin di jari. Petugas langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan sekitar pukul 17.30 WIB, Rabu (31/5).
”Dilihat dulu seberapa sempit ukuran cincin di jarinya. Pertama dicoba dulu melepas cincin menggunakan benang yang dililit jari dibantu minyak, ditarik pelan-pelan. Tetapi, kalau terlalu sempit dan tetap susah dilepas, jalan satu-satunya cincinnya terpaksa dipotong dibantu pakai gerinda kecil,” kata M Febri, Komandan Peleton 1 Satuan Tugas (Satgas) DPKP Kotim.
Kasus yang sama juga dialami Eni Yulia, warga Jalan Sukabumi, Kelurahan Baamang Hilir, Kamis (1/6) sore. Persoalan itu ditangani Akhmad Dicky, Komandan Peleton II (Satgas) DPKP Kotim.
Dicky dan Febri boleh dibilang sebagai kasus spesialis melepas cincin di jari warga. Berkat ketelatenannya, masalah dapat diatasi meskipun ada beberapa jari warga yang bengkak dan memerah pascacincin dilepas.
”Di tahun 2020 saat pandemi Covid-19, ada jari warga sampai bernanah karena cincin yang kesempitan tidak pernah dilepas. Dibawa ke rumah sakit, pihak rumah sakit menyarankan agar meminta bantuan kami, sehingga cincin itu berhasil dilepas dengan cara dipotong menggunakan gerinda,” ujar Akhmad Dicky.
Pada 2020, Satgas DPKP Kotim menangani 9 kasus pelepasan cincin, 2021 sebanyak 7 kasus, 2022 sebanyak 19 kasus, dan Januari-Juni 2023 sebanyak 8 kasus.
”Kebetulan saya yang menangani dan mengoordinir data penyelamatan warga, khususnya untuk pelepasan cincin. Selama jalan empat tahun ini, ada sekitar 43 kasus pelepasan cincin yang sudah ditangani Satgas Damkar. Tapi, yang paling sering penanganan evakuasi satwa liar, kebakaran rumah dan lahan,” kata tenaga kontrak yang sudah bertugas di Satgas DPKP Kotim selama 15 tahun ini.
Dicky mengaku mengerjakan penyelamatan kasus pelepasan cincin secara autodidak. ”Saya pernah mengikuti pelatihan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, tetapi untuk penanganan kasus pelepasan cincin itu dikerjakan secara otodidak saja,” katanya.
Peran Satgas Damkar DPKP Kotim dalam penanganan dan penyelamatan sangat diperlukan. Namun, Satgas Damkar masih menghadapi kendala di lapangan. Terutama kurangnya sarana pendukung, seperti peralatan mobil unit penyelamatan dan lainnya.








