Menelusuri Jejak Berdirinya Kota Pangkalan Bun Di Usia 216 Tahun

Hari Bersejarah Yang Mulai Terlupakan

istana kuning 4 jpeg
SEJARAH PANGKALAN BUN: Istana Kuning di Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat belum lama ini.

Kerabat Kesultanan Kutaringin, Pangeran Muasjidinsyah memberikan perhatian besar terhadap hal itu, harapan tersemat agar HUT Kota Pangkalan Bun dapat dirayakan meriah layaknya hari besar lainnya, sehingga masyarakat luas dapat mengetahui sejarah berdirinya Kabupaten Kotawaringin Barat.

“Kalau dapat dirayakan saya sangat setuju dan mengapresiasi, selama ini belum pernah dirayakan hari jadi Pongkalan Bu’un,” katanya, Senin (25/7).

Bacaan Lainnya
tanggal berdirinya pangkalan bun
Amanat Sultan Imaduin saat pendirian Kota Pangkalan Bun

Ia menyadari tidak adanya perayaan lantaran adanya permasalahan di masa lampau. Meski begitu, ke depan ia berharap momen hari jadi ‘Kota Manis’ ini menjadi agenda rutin setiap tahunnya.

Ia menjelaskan bahwa pada waktu itu sangat riskan, hanya karena hari jadi kabupaten sempat dipermasalahkan dengan beragam versi. Mudah-mudahan ke depan semua kerabat kesultanan, pemerintah daerah bisa berkumpul bermusyawarah mufakat membicarakan dan bersama-sama membentuk panitia.

Pria yang akrab disapa Ama Pangeran ini kemudian sedikit mengulas bagaimana sejarah berdirinya kota Pangkalan Bun yang tidak terlepas dari keberadaan Kesultanan Kutaringin.

Baca Juga :  RSSI Pangkalan Bun Didominasi Pasien Covid-19

Sebab kota ini secara resmi didirikan pada masa pemerintahan Sultan ke-IX Pangeran Imanudin, setelah sebelumnya sempat berpusat di Kotawaringin Lama.

Berdasarkan arsip resmi dan catatan sejarah, Kota Pangkalan Bun didirikan pada tanggal 9 Jumadil Awal 1221 Hijriah atau 25 Juli 1806. Cikal bakal ibukota Kobar ini ditandai dengan pendirian tiang Sangga Buana di Bukit Indra Kencana.

Pangeran Muasjidinsyah melanjutkan, sejatinya nama resmi yang diberikan oleh sultan kala itu yakni Soekaboemi Pongkalan Bu’un, namun lambat laun mengalami perubahan penulisan menjadi Pangkalan Bun. Nama Bu’un sendiri disebut oleh sultan sebagai bentuk penghormatan kepada penduduk lokal yang berjasa untuk Kesultanan Kutaringin.

“Kudirikan negeri Sukabumi Kutaringin Baru Pongkalan Bu’un untuk anak-anakku, cucu-cucuku, keturunanku, dan orang-orang yang mau berdiam di negeriku dalam Pengkuan Kesultanan Kutaringin”. Pengkuan itu berarti bingkai. Jadi Pangkalan Bun ini terbuka buat siapa saja, tapi tetap mengikuti adat istiadat setempat. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” ucapnya.



Pos terkait