Bangun Masjid Jami Noor Agung, Pendiri Rela Dihukum Kolonial Belanda

Jelajah Masjid di Kota Sampit selama Ramadan (5)

masjid jami noor agung 1
Masjid Jami Noor Agung yang berlokasi di Jalan Pemuda (Jalan Elang 5), Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim)

Perjuangan Almarhum Kiyai Haji Muhammad Sabil selaku pendiri Masjid Noor Agung dalam menyiarkan agama Islam di Kota Sampit sangat berisiko. Dia rela dihukum dan disiksa kolonial Belanda demi mempertahankan bangunan Masjid Noor Agung tetap kokoh berdiri hingga kini.

HENY, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Kenangan pilu yang dialami Ustaz Mustofa, Ketua Takmir Masjid Jami Noor Agung saat mengisahkan sejarah pendirian Masjid Noor Agung sangatlah membekas dalam ingatannya.

Mustofa baru aktif menjadi Ketua Takmir Masjid Jami Noor Agung tahun lalu menggantikan saudara kakak kandungnya, Syahriansyah yang tutup usia 50 tahun pada 2023 lalu. Dia merupakan ahli waris garis keturunan dari Kiyai Muhammad Sabil selaku pendiri Masjid yang juga merupakan ayah kandung dari Mustofa.

Dia cukup mengetahui perjuangan sang ayah dalam menyebarkan agama islam hingga mampu mendirikan Masjid Jami Noor Agung yang berlokasi di Jalan Pemuda (Jalan Elang 5), Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

masjid jami noor agung 2
JEMAAH: Jemaah saat menunaikan salat tarawih di Masjid Jami Noor Agung, Jalan Pemuda, Kamis (21/3/2024) malam. (HENY/RADARSAMPIT)

”Saya dari kecil hingga dewasa hidup di Pondok Pesantren di Pamekasan Madura, sama seperti tempat Almarhum Abah belajar agama. Setelah dewasa saya pindah-pindah ke Pondok di Pulau Jawa dan cukup lama menetap di Yogyakarta, sehingga dari pembangunan dan perkembangan Masjid, almarhum Kakak saya yang lebih tahu,” kata Mustofa saat ditemui Radar Sampit ba’da Ashar di Masjid Jami Noor Agung, Kamis (21/3/2024) sore.

Meski tak begitu mengetahui perkembangan Masjid Jami Noor Agung dari tahun ke tahun, namun ia masih mengingat perjuangan ayahnya menyiarkan agama Islam hingga masuk ke Pulau Kalimantan yang dulunya disebut Pulau Borneo.

”Abah dulu belajar agama islam di Pondok Miftahul Ulum Pamekasan Madura, guru Abah pada masa itu bernama Raden Kiyai Haji Nasrudin Bin Isbat yang merupakan Cicit dari Sunan Ampel,” kata Mustofa yang mulai menetap di Sampit sejak tahun 2011 lalu.

Untuk diketahui, Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat merupakan salah satu dari Wali Songo, para tokoh agama yang berkontribusi besar dalam menjalankan misi dakwah menyebarkan agama islam di Pulau Jawa khususnya di Provinsi Jawa Timur. Sunan Ampel juga merupakan sunan pertama di Demak dan pemimpin Wali Songo.

masjid jami noor agung 3
Ustaz Mustofa, Ketua Takmir Masjid Jami Noor Agung

”Almarhum Abah sudah mulai mondok tahun 1920 yang dulu muridnya berjumlah 40 orang,” kata Mustofa.

Selama menjadi santri, Sabil diminta gurunya untuk melakukan khalwat (Menarik diri dari keramaian dan menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah, Red) atau dikenal dengan bertapa.

“Beliau bertapa atau bersemedi sekitar 100 meter dari Pondok Pesantren selama 100 hari. Setelah itu dijemput oleh gurunya dan diperintah menyebarkan agama islam ke Pulau Borneo,” kata Mustofa.

Gurunya yang bernama Nasrudin memberikan segenggam tanah di depan Masjid Ponpes Miftahul Ulum kepada Sabil sebagai petunjuk.

“Saat menyerahkan tanah, gurunya Abah berkata, Yatim tempatmu bukan di Jawa, bukan di Madura, bukan di Sumatera atau Sulawesi tetapi tempatmu di Pulau Borneo,” kata Mustofa menirukan dialog Guru Nasrudin kepada Sabil.

masjid jami noor agung 4

“Dulu nama Abah biasa dipanggil Yatim dan setelah mulai menyebarkan islam ke Pulau Borneo namanya diubah menjadi Muhammad Sabil,” tambahnya.

Guru Nasrudin kemudian melepas keberangkatan Sabil ke Pulau Borneo menggunakan perahu layar dari Pulau Jawa. Selama perjalanan panjang ‘membelah’ lautan, Sabil akhirnya sampai dan menginjakkan kaki pertama di Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Pos terkait