Melihat Implementasi Program Smart Agro di Gunung Mas

Rela Jual Sapi untuk Mengolah Lahan Pertanian

gunung mas,pertanian,poktan Bina Karya di Desa Pilang Munduk.,smart agro gunung mas
Suasana panen perdana jagung hibrida milik kelompok tani Bina Karya, Desa Pilang Munduk, Kecamatan Kurun, Kamis (10/11) sore.(arhamsaid/radarsampit)

Kelompok Tani (Poktan) Bina Karya yang mayoritas merupakan warga Desa Pilang Munduk, Kecamatan Kurun, Kabupaten Gunung Mas (Gumas) rela merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah untuk mengolah lahan pertanian, dengan menanam jagung dan sayuran.

===========================

Bacaan Lainnya

ARHAM SAID, Radarsampit.com Kuala Kurun

Program smart agro atau pertanian dalam arti luas yang digaungkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gumas, mampu diimplementasikan dengan baik oleh poktan Bina Karya di Desa Pilang Munduk. Meskipun harus rela menjual empat ekor sapi, sebagai modal membeli lahan seluas enam hektare serta mengolahnya menjadi lahan pertanian.

”Empat ekor sapi yang dijual itu milik saya. Uang hasil penjualan, digunakan untuk membeli lahan dan mengolahnya menjadi lahan pertanian,” ucap Ketua Kelompok Tani Bina Karya Desa Pilang Munduk Langkai, Kamis (10/11).

Dia mengatakan, tidak menerima uang sepeserpun dari hasil penjualan sapi tadi. Semua digunakan untuk mengolah lahan pertanian. Dari enam hektare lahan yang dibeli tadi, 5,14 hektare sudah dibuka menjadi lahan pertanian. Terdiri dari, lima hektare ditanami jagung hibrida, dan sisanya menanam sayuran.

”Kini jagung dan sayuran yang ditanam di lahan tersebut mampu tumbuh subur. Ini terbukti dengan pelaksanaan panen perdana jagung hibrida oleh Bupati Gumas di lahan itu,” tutur Langkai.

Saat ini lanjut dia, meski sapi miliknya sudah dijual, namun kandang sapinya yang dulu masih tetap ada. Sembari menunggu adanya bantuan bibit sapi dari berbagai pihak.

”Saya berharap ada bantuan bibit sapi. Kalau mendapat bantuan, tentu akan saya kembangbiakan,” tegasnya.

Pihaknya meminta kepada poktan lain di Desa Pilang Munduk, agar giat mengolah lahan pertanian dan memanfaatkan bantuan sarana produksi seperti benih, pupuk, dan obat-obatan. Dengan demikian, hasil usaha tani bisa meningkat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian keluarga.

”Saya ingin program smart agro terus berlanjut dan mampu dimanfaatkan poktan lainnya, sehingga kedepan Desa Pilang Munduk mampu menjadi sentra penghasil jagung dan berbagai macam sayuran,” ujar Langkai.

Sementara itu, Bupati Gumas Jaya Samaya Monong mengakui, para petani yang tergabung dalam poktan bina karya merupakan petani yang hebat. Mereka berani berspekulasi menjual empat ekor sapi untuk membeli lahan seluas enam hektare dan mengolahnya menjadi lahan pertanian.

”Para petani dari poktan bina karya melakukan suatu hal yang luar biasa. Berani mencari modal untuk memulai usaha tani dengan menjual sapi,” ungkapnya.

Dia menegaskan akan terus memperhatikan poktan bina karya. Salah satu wujud perhatian itu adalah dengan mendukung pemberian bibit sapi. Apalagi kandang sapi milik mereka juga sudah siap.

”Kita doakan empat ekor sapi yang dijual untuk modal usaha tani itu, kedepannya bisa menjadi 4.000 ekor sapi,” kata Jaya.

Menurutnya,  banyak tantangan dalam menyukseskan program smart agro selama kurang lebih dua tahun ini. Tidak mudah mengajak masyarakat untuk beralih dan melirik usaha tani, karena mereka terbiasa mendapatkan uang secara instan dengan menambang emas maupun bekerja kayu.

”Saya sangat memahami itu. Semua perlu waktu, proses, dan tidak akan berjalan dengan mudah. Kalaupun kita memaksakan mereka, hasilnya juga pasti tidak akan maksimal,” ujarnya.

Jaya juga mengungkapkan, sudah melakukan evaluasi terkait progres program smart agro. Perlu fokus dalam menentukan komoditi pangan yang menjadi usaha tani, dengan didukung infrastruktur dan keseriusan poktan. Apalagi banyak poktan yang hanya ikut-ikutan saja dalam program ini.

Pos terkait